Sukses menjadi game nomor satu (1) di Play Store saat tulisan ini dirilis, membuat Skyegrid Media ingin berbagi beberapa hal dalam review game CoD Mobile yang dihadirkan Garena ini ke Indonesia, juga beberapa negara tetangga.
Harus diakui, euforia battle royale membuat penggemar berekspektasi lebih terhadap Call of Duty: Mobile. Walaupun ternyata, battle royale tidak menjadi mode utama di game ini. Mampukah Tencent memanfaatkan euforia ini untuk mengambil celah mengeksekusi mode tersebut dengan baik?
Gameplay
Untuk yang terbiasa dengan Free Fire, mungkin tidak perlu terlalu banyak beradaptasi terkait game-play CoD Mobile ini. Tapi cukup jauh berbeda dari PUBG Mobile, yang menawarkan kontak tembak menembak lebih ‘alami’ dibanding CoD Mobile apalagi Free Fire. Tapi tenang, diawal bermain, kamu akan menjalani bootcamp terlebih dahulu untuk mendapat beberapa pelajaran terkait gameplay.
Ada yang agak absurd menurut saya di game ini, misalkan pemain bisa menyembuhkan diri sambil berlari,-kan agak – agak impossible. Tapi namanya game, ya sah – sah saja. Tapi ada juga hal yang mungkin terlupakan pada mode bermain di PUBG Mobile, misalnya Wingsuit yang secara otomatis digunakan ketika lompat dari ketinggian. Jadi kamu tidak akan mati, hanya karena jatuh dari gedung bertingkat.
Mode Bermain
Saat ini terdapat dua (2) mode bermain dalam CoD: Mobile,- yakni MultiPlayer yang terbagai menjadi tiga (3) mode yakni Team Deatmatch untuk level Rookie, Domination dan Bomb Mission.
Kedua adalah Battle Royale yang baru akan terbuka saat pemain mencapai level 7. Dalam mode ini, pemain tak hanya harus menjadi yang terakhir bertahan hidup dengan menyingkirkan lawan satu per satu,- tapi pemain juga harus menghindari serangan zombi yang jumlahnya bervariasi di tiap titik MAP.
Ada satu lagi mode bermain yang masih belum bisa dipilih dimana tanggal rilisnya, belum bisa dikonfirmasi.
Mode Deatmach akan memasukan pemain ke tim secara acak, tanpa opsi memilih ingin berada di tim mana, atau memilih MAP yang mana. Kamu diharuskan membunuh semua anggota tim musuh sebanyak 20 kali, sebelum mereka bisa membunuh tim Kamu sebanyak 20 kali. Setiap kali mati, Kamu akan kembali hidup di home base.
Dimode MultiPlayer awalnya sedikit membuat saya gusar,-hingga akhirnya saya menyadari, mode Deathmatch ini sejatinya menjadi arena training bagi pengguna baru yang lebih Live,-dibanding mode training di PUBG Mobile.
Call of Duty: Mobile menawarkan kontrol penuh dan skema perkembangan karakter yang saya rasakan, lebih menghargai keterampilan daripada keberuntungan. Sedangkan PUBG Mobile, opsi kontrol pada karakter amat sangat terbatas.
Persenjataan
Untuk mode Multiplayer, setiap kali memulai arena permainan, kita akan diminta untuk memilih loudout yang akan digunakan. Terutama jika kita sudah memiliki banyak senjata. Karena setiap pemain hanya boleh menggunakan satu set senjata yang terdiri dari main Weapon dan hand gun.
Tiap – tiap senjata juga dibuat memiliki detail XP berbeda – beda mulai dari Damage, Accuracy, Range, Fire Rate juga Movement. Tentu, pemain bisa meningkatkan XP tiap senjata dengan membeli XP Card dengan uang tunai. Kamu bisa melihat detailnya di area Loadout.
Ada dua opsi menggunakan senjata api. Pertama mode “Simple” yang memungkinkan pemain mampu menembakkan senjata, hanya dengan mengarahkan crosshair ke musuh. Kedua yakni mode advance yang perlu di kustom terlebih dahulu, untuk mendapatkan kemampuan menembak manual seperti, HUD, hingga bagaimana senjata dibawa oleh karakter.
Tapi saya akui, experience yang ditawarkan game ini sangat menyenangkan. Walau terhitung, perlu waktu agak lama untuk beradaptasi menguasai senjata – senjata yang ditawarkan. Terutama senjata moderen seperti rocket launcher ataupun drone.
Role Player
Pada PUBG Mobile, tiap karakter dituntut menguasai role bermain-nya, baik sebagai front-liner maupun sniper, khususnya saat bermain dalam tim. Walaupun bisa berubah selama pertandingan berlangsung, dengan hanya mengganti senjata.
Berbeda dengan CoD Mobile, setiap player harus memilih role khusus, yang harus dipilih setiap awal match. Nama – nama tiap role cukup mudah dipahami untuk mengetahui kelebihannya masing – masing. Misalkan Defender sebagai pelindung, Medic sebagai dokter dalam tim, Clown sebagai pengalih perhatian, Scout sebagai pencari jejak, Mechanic sebagai ahli senjata dan memperbaiki, serta Ninja sebagai silent killer.
Leveling
Dalam game CoD Mobile, tidak terlalu sulit dan bertele – tele bagi pemain untuk meningkatkan level. Saya sendiri cukup beberapa jam saja untuk mencapai level 7 dan membuka opsi Battle Royale.
Sama seperti game – game mobile moderen saat ini, tiap kenaikan level memberi keuntungan dengan terbukanya item baik senjata baru, atau XPnya saja. Untuk lebih cepat meningkatkan level, pemain bisa menjalankan tantangan – tantangan dalam mode Rangked Match, yang jika berhasil diselesaikan, otomatis memberikan poin lebih banyak sebagai modal naik level.
Call of Duty: Mobile memiliki banyak kesamaan dengan PUBG Mobile. Keduanya gratis untuk dimainkan, keduanya terhubung ke waralaba populer di ranah game PC, keduanya memiliki konsep kotak jarahan (Loot-Box),- dan yang paling mirip, keduanya menawarkan Micro Transaction yang dapat Anda tebus dengan uang asli, untuk mendapatkan properti khusus untuk mempercepat kenaikan level, yang belum tentu di dapat oleh mereka yang memilih bermain serba gratis.
MAP
Area pertempuran divisualisasikan dengan sangat baik,-terutama arena deathmatch. Properti dan struktur bangunan yang ada, ditata sedemikian rupa hingga menghadirkan banyak ide – ide menyerang maupun bertahan. Hal ini akan pemain dapatkan bahkan sejak awal bermain di MAP nuketown.
Di mode awal Frontline, pemain tidak diberikan kebebasan memilih MAP seperti pada CS: GO. Satu MAP akan ditentukan oleh server, dari 6 pilihan MAP yang ada yakni Crash, Kill House, HiJacked, Cross-Fire, Nuketown, Firing Range, Stand-Off, Take-Off dan satu MAP terbaru yang akan segera rilis, RAID. Sedangkan untuk mode battle royale sendiri, baru tersedia satu pilihan MAP yakni Isolated.
Yang patut dipersiapkan adalah, tiap MAP memiliki karakter sendiri – sendiri yang kadang kala memaksa pemain menentukan senjata apa yang paling tepat. Misalkan MAP Firing-Range, lebih menguntungkan bagi pemain yang menggunakan senjata jarak dekat.
Visual, Musik dan Sound Efek
Karakter, aparel, dan seluruh item yang ada di game COD Mobile ini dibuat lebih detail dan realistis. Bahkan hingga ke partikel debu yang membuat item – item dalam game terlihat lebih natural.
Untuk sisi visual grafis, secara keseluruhan sangat sepadan dengan ukuran game yang mencapai 1,5 GB. Tekstur bangunan, properti, tanah hingga tanaman seperti rumput, divisualkan dengan cukup detail.
Sisi audio, terutama template suara yang terdengar dari radio command, menjadi hal yang membuat game ini lebih terasa sisi battlefield-nya. Musik latar yang hadir ditiap – tiap scene juga menambah perasaan semangat,- dan berhasil meningkatkan mood saat saya mulai dilanda bosan memainkan game ini.
Unique
Benar, CoD Mobile memberi sensasi berbeda dengan segala keunggulan yang saya sebutkan di atas. Properti Call of Duty yang sudah terlalu tersohor sebagai salah satu game FPS terbaik dunia, berhasil dihadirkan hampir sempurna pada versi mobile nya ini. Dengan batasan – batasan yang masih mampu di handle hardware smartphone tentunya.
Kamu akan menemukan paduan CS: GO, Free Fire juga PUBG Mobile pada game ini, dengan penyempurnaan yang pas. Semua yang terkait property dibuat terasa lebih hidup dan natural. Hanya mungkin beberapa analogi pertempuran, masih kalah natural dibanding PUBG Mobile.
Sebab game ini masih terus menerus diberi perbaikan, semua yang saya sampaikan dalam artikel review game CoD Mobile kali ini, mungkin sekali akan mendapat update. Jadi, sebaiknya kamu mencoba langsung, untuk mendapatkan pengalaman yang lebih detail, khususya pada penggunaan smartphone pribadi kamu.
Kegelapan tanpa titik terang adalah ekspresi yang sama sekali tidak berlebihan untuk mendeskripsikan apa yang harus dilalui gamer-gamer pencinta Star Wars selama beberapa tahun terakhir ini. Bagaimana tidak? Terlepas dari fakta bahwa EA adalah sebuah perusahaan raksasa dengan modal besar dan tim bertalenta, mereka terhitung gagal memaksimalkan potensi kerjasama eksklusif 10 tahun dengan Disney terkait Star Wars. Yang dilahirkan hanya berujung menjadi dua seri Battlefront yang walaupun secara visual memesona berkat implementasi Frostbite Engine, namun berujung tidak memuaskan. Kritik bahkan mewarnai keduanya, dari masalah terbatasnya konten hingga fitur microtransactions yang tampil bak lelucon. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak gamer yang berujung sangat menantikan kehadiran Star Wars Jedi: Fallen Order dari Respawn Entertainment.
Apa pasal? Sederhana, karena ia jadi produk pertama dari jalinan kerjasama 10 tahun EA – Disney yang akan ditelurkan dalam bentuk game single-player yang berfokus pada cerita yang canon, alih-alih game multiplayer seperti layaknya Battlefront. Antisipasi juga datang dari rasa kekecewaan bahwa proyek game single-player Star Wars lain yang sempat diracik bersama dengan Amy Hennig dengan nama sandi “RagTag” juga berujung dibatalkan EA untuk alasan yang tidak jelas. Star Wars Jedi: Fallen Order akan tampil baik mata air pelepas dahaga untuk gamer pencinta Star Wars yang merindukan konten campaign yang solid, apalagi kini juga ditangani oleh Respawn Entertainment yang sepak terjangnya sejauh ini, terhitung solid.
Anda yang sudah membaca artikel preview kami terkait Star Wars Jedi: Fallen Order sepertinya sudah memiliki gambaran yang lebih jelas soal apa yang ditawarkan game yang satu ini. Sistem pertarungan ala seri Souls memang menjadi basis, terutama untuk Anda yang memilih tingkat kesulitan di atas normal. Namun di sisi lain, sensasinya tidak bisa dibilang mirip mengingat Anda kini juga dibekali dengan kemampuan berbasis Force yang bisa digunakan untuk mendapatkan ragam keuntungan strategis. Salah satu yang mengejutkan juga datang dari sistem eksplorasi yang alih-alih linear, justru terasa seperti sebuah game Metroidvania dimana besarnya area yang bisa Anda jelajahi akan bergantung pada kemampuan mana saja yang sudah Anda miliki. Kami juga sempat menyoroti masalah polish yang penuh tanda tanya, mengingat ragam bug dan glitch yang Anda temukan di sepanjang permainan.
Lantas, sebenarnya apa yang ditawarkan oleh Star Wars Jedi: Fallen Order? Mengapa kami menyebutnya sebagai game yang seolah merepresentasikan cahaya yang akhirnya tiba? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.
Plot
Dihitung canon, Star Wars Jedi: Fallen Order mengambil timeline antara Episode 3 dan Episode 4.
Dihitung canon, Star Wars Jedi: Fallen Order akan mengambil timeline cerita antara Star Wars Episode III dan Episode IV. Setelah event di seri film ketiganya yang juga diikuti dengan runtuhnya Jedi Order, kubu Empire mengeksekusi sebuah perintah yang mereka sebut sebagai “The Order 66”. Isi perintahnya sederhana – memburu dan menghabisi siapapun yang memiliki keterkaitan dengan Jedi dan The Force, baik di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.
Anda berperan sebagai seorang scavenger bernama Cal Kestis yang terlihat seperti seorang pria muda biasa yang bekerja untuk menyambung hidupnya. Namun sebuah kejadian yang begitu genting membuat Cal mau tidak mau berakhir harus menggunakan The Force. Layaknya sebuah informasi gelombang yang tidak biasa, aksi yang dilakukan Cal akhirnya berujung mengundang tim Inquisitors – ujung tombak Order 66 ke planet tersebut, berusaha mencari dan menangani sang sumber penggunaan The Force. Cal yang terdesak mau tidak mau, harus membuka jati dirinya.
Kondisi genting memaksa Cal menggunakan Force.Dengan The Order 66 yang tengah berjalan, Cal langsung jadi buruan utama The Inquisitors.
Dengan menggunakan Light Saber gurunya yang masih ia simpan dengan baik, di tengah hadapan para anggota The Inquisitors – Second Sister, Cal pun harus membela diri. Namun statusnya sebagai seorang Padawan yang notabene berada di bawah Jedi membuatnya tidak punya kemampuan setara untuk melawan balik dengan kesempatan menang yang kecil. Untungnya, ia tiba-tiba dibantu oleh seorang mantan Jedi bernama – Cere Junda dan seorang pilot bernama Greez yang datang “menjemput” Cal di atas sebuah pesawat bernama Mantis.
Cere ternyata berambisi untuk menghidupkan dan membangkitkan kembali The Jedi Order. Sebuah mimpi yang ternyata tidak mustahil mengingat ia mengetahui bahwa di sebuah lokasi rahasia, di planet Bogano, seorang Jedi Master bernama – Eno Cordova menyimpan satu informasi super penting. Ia memiliki sebuah Holocron yang berisikan daftar nama anak-anak di seluruh galaksi yang punya sensitivitas tinggi terhadap The Force. Kelompok yang dipandang Cere sebagai bibit-bibit yang butuh dilatih dan diseleksi untuk menjadi Jedi di masa depan, dan karenanya, menjadi pondasi untuk membangkitkan kembali Jedi Order. Namun seperti yang bisa diprediksi, perjalanan ini tidak akan mudah.
Tantangan seperti apa yang harus dihadapi Cal?
Lantas, tantangan seperti apa yang harus dihadapi Cal? Mampukah ia mendapatkan holocron super penting tersebut? Siapa pula identitas Second Sister yang sebenarnya? Semua jawaban dari pertanyaan ini tentu saja bisa Anda dapatkan dengan memainkan Star Wars Jedi: Fallen Order ini.
Call of Duty bukan nama yang baru lagi di industri video game. Franchise yang dibuat untuk menyaingi Medal of Honor tersebut sukses bertahan hingga detik ini berkat keistimewaannya. Terlepas dari semua kontroversinya, terbukti bahwa ia bisa menjadi game yang datangkan banyak sekali keuntungan bagi Activision hingga detik ini. Game yang dimulai dengan Infinity Ward sebagai developer pertamanya tersebut miliki ciri khas cerita single player yang dramatis layaknya film. Puncaknya ketika seri Modern Warfare mengalami konklusi dari ceritanya di seri ketiga. Kirimkan banyak sekali pundi-pundi emas bagi developer dan publisher asal Amerika Serikat tersebut.
Meski sempat absenkan diri dari Black Ops 4 yang hadir tanpa singleplayer. Namun hal tersebut tak mereka ulangi di tahun 2019 ini. Di bawah kendali Infinity Ward yang dipasrahi untuk mengerjakan iterasi Call of Duty tahun ini. Mereka nampaknya ingin melakukan branding ulang seri Modern Warfare yang sempat melambungkan namanya dan menjadikan tambang emas bagi mereka. Tidak sebagai sekuel maupun remake, namun reboot. Hal ini terbukti dengan dibuatnya engine baru yang menjadi pertanda kehadirannya. Sebuah engine yang akan mereka gunakan di franchise gamenya di masa datang.
Lalu, apakah dengan lakukan branding ulang Modern Warfare Reboot mereka bisa bangkit untuk hadirkan ciri khas gamenya?
Wajah Lama Kembali
Cerita Call of Duty Modern Warfare dimulai dengan adegan kelompok teroris bernama Al Qatala di bawah pimpinan Wolf dan tangan kanannya, Butcher yang mengacaukan sebuah kota dengan bom bunuh dirinya. Kelompok ini mengatakan akan melakukan apapun untuk menumpas orang dan kekuatan asing di negaranya dengan kekerasan dan pembunuhan.
Kisahnya kemudian berpindah ke agen CIA bernama Alex dan para pasukan marinir yang ditugaskan untuk melakukan operasi penyergapan di salah satu markas militer yang terletak di Verdansk. Penyergapan ini bertujuan untuk mengamankan gas chlorine berbahaya yang mereka miliki. Sayangnya, ketika tim mulai berhasil menyelesaikan misi, mereka mendadak diserang oleh kelompok tak dikenal yang diduga adalah Al Qatala. Mencuri gas chlorine yang akan mereka gunakan untuk kepentingan kelompoknya. Membuat Kremlin harus memutuskan hubungan internasional Amerika dan Russia.
Alex akan kamu mainkan di awal misinya.Sersan Garrick (kanan) akan menjadi playable character kedua selama misi selain Alex.
Mengetahui hal tersebut, bosnya, Laswell menghubungi John Price untuk mengejar kelompok teroris tersebut. Pindah tugaskan Alex untuk bekerja bersama Price yang kemudian merekrut Sersan Garrick saat kekacauan yang dimulai Al Qatala terjadi di London. Mereka kemudian meminta bantuan rekan lama Price, yakni Farah dan Hadir yang tengah bertempur melawan Al Qatala dan pasukan Russia di Urzikstan. Mampukah mereka menumpas Al Qatala dan menangkap pemimpinnya bernama Wolf?
Sentuhan Tampilan Visual yang Modern
Dengan mengatakan bahwa game ini merupakan versi reboot, maka wajar apabila kita akan membahas tampilan visualnya terlebih dahulu. Kehadiran engine baru milik Infinity Ward membuat Call of Duty Modern Warfare Reboot miliki tampilan visual yang menawan. Mulai dari cahaya, tekstur, asap, hingga efek dari ledakan atau api dari bom molotov yang dilemparkan. Ini dipercantik lagi dengan sentuhan ray-tracing yang dipopulerkan oleh NVIDIA.
Fitur ray-tracing yang saya pribadi coba menjadi ray-tracing paling optimal yang pernah saya mainkan dalam gamenya. Jika beberapa game akan memaksamu untuk mengimplementasikan ray-tracing di resolusi 2K, maka tidak dengan Call of Duty Modern Warfare Reboot. Karena dengan 1080p saja kamu bisa menikmatinya. Tentunya dengan GPU yang mendukung.
Lalu, bagaimana performanya di PC dengan spesifikasi rendah? Percaya tidak percaya, saya sudah mencobanya di PC lain dengan spesifikasi i5 generasi keempat dengan RAM 8GB dan GPU NVIDIA GTX 960. Hasilnya, game bisa berjalan lancar di 60 fps dengan setting grafis very low rata kiri. Sayangnya saya tidak menyarankanmu untuk memainkannya di PC dengan RAM 4GB meskipun semua spesifikasi baik CPU maupun GPU memenuhi.
Efek ledakan dan cahaya dalam gelap membuat peran raytracing menjadi semakin sempurna.
Perubahan tampilan visual ini juga tersirat di penyajian ceritanya yang kini menjadi terpisah dan tak melulu disajikan dalam perspektif orang pertama. Dengan adanya cutscene pre-rendered di beberapa bagian, Infinity Ward mencoba untuk memberikan kesan bahwa ceritanya kali ini miliki beberapa perspektif yang berbeda. Hal ini kemudian diperkuat dengan keberadaan dua playable character yang bisa kamu mainkan. Mulai dari agen CIA merangkap tentara yakni Alex, hingga Sersan Garrick yang ditugaskan untuk mengamankan London dari marabahaya Al Qatala yang mengancam.
Sentuhan Gunfight yang Lebih Realistis
Terlepas dari cerita dan tampilan visualnya yang menawan, game shooter tentu takkan lengkap tanpa mekanisme gunfightnya yang jadi inti gameplaynya. Berbeda dari seri sebelumnya, Modern Warfare hadir dengan gunfight yang lebih realistis. Kebanyakan senjatanya kini miliki recoil yang bisa dikatakan cukup nyata. Kamu tak lagi bisa asal aim dan spray karena kamu harus atur recoilnya dengan mouse jika kamu memainkannya di PC. Beberapa senjata kini tidak bisa digunakan dengan asal spray karena pelurunya akan pergi kemana-mana tanpa attachment yang mendukung. AK47 misalnya yang bakal mengangkat ke atas dengan cukup tinggi jika kamu tidak mengatur recoilnya.
Perubahan tersebut mengubah permainan intinya yang awalnya run and gun menjadi lebih taktikal. Terdapat beberapa sudut yang bisa digunakan untuk berlindung dan mengintip layaknya Rainbow Six Siege. Namun berbeda dengan game karya Ubisoft tersebut yang bisa intip kanan kiri dengan leluasa, kamu harus menggunakan tombol mouse 5, yakni tombol atas yang berada di bagian samping kiri mousemu di sudut tertentu. Misalnya seperti pinggiran dinding, di atas barikade, atau di atas kap mobil. Ini akan membantumu untuk berlindung dari serangan musuh berkat kini recovery time-mu akan jauh lebih lambat dibanding biasanya.BACA JUGA AutoChess: Genre Kuda Hitam di Tahun 2019
Beberapa suara senapannya kini juga didesain dengan sangat baik. Ia terdengar lebih gahar dan menyeramkan. Jika kamu menembakkan senapanmu di beberapa area, maka kamu akan bisa mendengarkan suara yang berbeda. Area terbuka dan tertutup akan menghasilkan suara yang cukup berbeda. Efek muzzle tiap senjata seperti suppressor juga kini miliki suara yang lebih baik. Memberikanmu bayangan untukmu yang belum pernah mendengarkan suara senjata bersuppressor menjadi lebih dekat.
Going Dark
Cerita Call of Duty Modern Warfare tak lagi berkutat ke beberapa kontroversi tertentu. Namun lebih condong pada situasi nyata. Namun tak semuanya bisa tersampaikan dengan baik dalam eksekusinya. Bahwa sekitar 50% bisa tersampaikan dengan baik dan bisa disebut berhasil, namun sisanya terasa cukup generik. Misalnya mereka berhasil merepresentasikan teror dan horor perang yang terjadi saat misi tertentu. Kamu dijamin akan dibuat ketakutan dengan bagaimana perang yang sesungguhnya terjadi. Bagaimana konflik politik dan perebutan kekuasaan bisa mengakibatkan gugurnya banyak korban tak berdosa.
Misi dalam kegelapan seperti ini akan sering kamu jumpai.
Namun di sisi lain, kegenerikan bahwa Amerika dan negara sekutu sebagai pahlawan dan Russia atau negara timur tengah sebagai si jahat membuat saya cukup bosan melihatnya. Memang, kedua negara tersebut tak miliki hubungan yang cukup baik, namun hal ini sudah cukup banyak direpresentasikan di berbagai media. Salah satunya adalah film. Di satu sisi, terdapat sebuah potret bagaimana buruknya situasi yang dilakukan. Namun hal tersebut justru ternetralkan berkat tentara musuh yang datang dengan membabi-buta.
Dari sisi gameplaynya sendiri, kamu akan lebih sering menjalankan misi di malam hari. Penyergapan di tempat-tempat gelap yang memaksamu untuk menggunakan night vision membuat permainannya tak melulu bar-bar. Membuatmu harus berpikir bagaimana agar tidak salah tembak. Penyergapan di rumah misalnya yang memaksamu harus berhati-hati untuk menembak musuh. Membunuhnya atau melumpuhkannya menjadi pilihanmu. Salah sedikit, kamu akan bisa menembak orang tak bersalah.
Sayangnya, hal tersebut tak berbanding lurus dengan penokohan dan perkembangan karakternya. Captain Price sendiri yang menjadi sorotan utama nampak seolah menjadi satu-satunya karakter yang berkembang dengan sangat baik. Voice actornya, Barry Sloane berhasil membawakan Price dengan sangat baik. Motion capture yang ia lakukan bersama Infinity Ward berikan pesona Price dan karakternya terlihat hidup.
Captain Price menjadi sorotan utama dalam gamenya.
Namun tidak untuk beberapa karakter lain seperti hubungan antara Alex, Farah, dan Hadir. Ketiganya yang menurut saya bisa menjadi ujung tombak cerita, seolah diselesaikan begitu saja tanpa menjadikan perkembangan karakternya bertahap. Seolah Infinity Ward hanya fokus pada Price saja yang mungkin akan dijadikan tokoh utama di sekuel selanjutnya. Karena jika kamu melihat konklusi ceritanya, nampaknya mereka akan melanjutkan sekuelnya.
Jika kamu memainkan gamenya dari Modern Warfare pertama. Maka kamu akan mengetahui beberapa adegan yang dibuat ulang oleh Infinity Ward dalam seri ini. Misi Captain Macmillan yang ikonik akan terulang di bagian tertentu. Namun dengan perubahan yang cukup berbeda. Kemungkinan Infinity Ward mengambil inspirasinya dari adegan tersebut.
Ceritanya memang didesain dengan sangat baik jika dibandingkan versi orisinalnya dengan berbagai perspektif. Namun pada kenyataannya, menurut saya pribadi seri orisinal justru lebih baik berkat pengalaman perspektif orang pertama yang melihat berjalannya cerita secara langsung. Seolah ajak kita untuk ikut berperan di dalamnya.
Cerita Farah dan Hadir seharusnya bisa digali dengan lebih detil jika mereka ingin berikan sesuatu yang cukup fresh. Atau jika mereka berencana untuk melanjutkan dengan sekuel.
Sayangnya terdapat beberapa hal yang saya sayangkan di singleplayernya. Desain AI yang dilakukan Infinity Ward terlihat cukup lemah menjelang akhir permainan. Khususnya companion AI. Awalnya, semua memang didesain dengan sangat baik, namun tidak di pertengahan permainan. AI menjadi terlihat bodoh dan tidak berinisiatif kecuali kamu pergi ke titik yang cukup jauh, sementara musuh seolah tak ada habisnya untuk kian datang. Terkadang saya juga mati konyol karena seharusnya mereka sudah berada di posisi yang sama dengan saya dan ikut membantu, namun pada kenyataannya terlampau cukup jauh. Membuat saya harus berusaha sendirian.
Tak bisa dipungkiri, ini juga terjadi di AI musuh di pertengahan cerita. Mereka seolah sengaja menyettingnya agar hanya mengejar player tanpa mempedulikan AI companion yang membantunya. Banyangkan jika kamu harus dipaksa 1 vs 1 melawan juggernaut yang miliki ketebalan armor yang luar biasa dan minigun yang dibawanya. Ironisnya, ia justru terus berlarian mengejarmu dan bukan rekanmu atau acak mengejarmu dan rekanmu.
Beberapa scripted event seperti dikejar helikopter terasa kurang bebas. Kamu harus menggunakan jalan A terus untuk menyelesaikannya, padahal terdapat jalan B dan C yang juga memungkinkan untuk menyelesaikannya. Namun jika kamu melakukannya, maka kamu akan otomatis mati.
Hal lain yang membuat saya sedikit kecewa adalah adanya pilihan jawaban saat ditanya NPC. Sayangnya pilihan jawaban tersebut hanya miliki satu jawaban yang benar. Terasa sangat sia-sia untuk memberikannya. Buat apa memberikan pilihan jawaban di cerita jika hanya satu yang benar? Kenapa tidak langsung dilakukan saja melalui cutscene?
Tak Lagi Bar-Bar di Multiplayer
Kamu bisa memilih operator untuk karaktermu.
Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya bahwa kini handling senjatanya dijadikan dengan lebih realistis. Maka hal tersebut juga tersirat di multiplayernya. Dengan semakin sulitnya semua senjata. Maka kamu tak bisa menembaknya dengan asal-asalan tanpa memperhatikan recoil dan kapan dan di mana kamu akan menembak. Berusaha berlari melakukannya akan membuatmu mati sia-sia. Semua telah berubah, face it. Player PC, PlayStation 4, dan Xbox One akan mampu bermain dalam satu server. Melebur dinding yang membatasinya.BACA JUGA [OPINI] Diam-Diam EA Membenci Star Wars Jedi: Fallen Order?
Multiplayer kini menjadi lebih taktikal. Kamu kini tak bisa asal tembak dan maju seperti seri lawasnya.
Multiplayernya miliki berbagai fitur yang sudah ada di seri sebelumnya. Mulai dari create a class, perk, dan lethal/equipment. Terdapat tambahan unik lain seperti operator yang bisa kamu buka dengan menyelesaikan challenge, hingga dobel XP atau XP tambahan lain dengan merampungkan daily challenge. Misalnya seperti membunuh 25 musuh dengan sniper, dan seterusnya.
Kamu bisa membuat 5 custom class dalam create a class. Semua hal dari memodifikasi senjata hingga memasang perk masih sama dan tetap ada di sini sama seperti seri lawasnya.
Hal unik dari fitur create a class yang ada adalah blueprint yang otomatis akan mengganti skin senjatamu. Jadi misalnya kamu mendapatkan blueprint AK47, maka kamu bisa menggantinya dengan tampilan lain. Hingga tulisan ini turun, belum ada kejelasan bagaimana cara mendapatkannya. Namun kemungkinan ia bisa dibeli di in-game store dengan uang asli. Karena hingga detik ini, baru satu skin saja yang ada di sana.
Cyber Attack menjadi mode yang cukup mirip dengan Search and Destroy, namun menggunakan EMP bomb.
Beberapa mode generik yang bisa diakses melalui Quick Play seperti Team Deathmatch, Cyber Attack, Domination, Search and Destroy, Headquarters, Team Deathmatch & Domination 20 player, dan Kill Confirmed terlihat sama saja dengan seri terdahulunya. Bahwa mereka hanya menambahkan satu mode baru untuk Quick Play yakni Cyber Attack. Sebuah mode yang mirip dengan Search and Destroy namun menggunakan EMP sebagai bomnya. Selain itu, mode ini akan mungkinkanmu untuk menghidupkan kembali rekan-rekanmu yang sudah terbunuh.
Mapnya kini didesain dengan sedikit lebih luas. Membuatmu sedikit agak rileks dan nyaman karena tak perlu fokus menghabiskan energi untuk terus bereaksi cepat saat berhadapan dengan musuh. Tujuan Infinity Ward memang baik agar player bisa memanfaatkan map dan bermain dengan lebih tactical. Namun sayang, pada prakteknya desain map tersebut justru memotivasi banyak player untuk camping atau diam di satu tempat.
Ground War adalah mode conquest Battlefield, namun dengan Killstreak.
Mode baru lainnya adalah Ground War yang mana akan mengikuti mode conquest ala Battlefield milik EA dengan mapnya yang cukup luas. Paksamu untuk merebut beberapa poin dengan berjalan kaki atau mengendarai tank. Ya, kali ini kamu bisa mengendarai tank dan kendaraan perang lain termasuk helikopter. Sayangnya, meski tank akan bisa menembakkan peluru, helikopter yang dikendarai hanya sebatas transportasi saja.
Hal lain yang menurut saya pribadi cukup mengecewakan adalah tak adanya destruction physics saat ground war. Menjadikan elemen arcade masih tetap melekat dalam gamenya. Berbeda dengan versi beta yang mana tank cukup empuk, kini tank dan kendaraan lain di Ground War menjadi sedikit lebih keras. Berikan kesempatan bagi mereka yang ingin keluar sebelum mati karena ledakan.
Sayangnya, killstreak UAV dan counter UAV masih menggunakan syarat yang sama. Membuat musuh yang dapatkan killstreak tersebut bisa lakukan spam UAV tanpa habis sama sekali dan memanfaatkannya untuk menumpas musuh. Seharusnya khusus untuk ground war, hal ini bisa ditoleransi dengan mengubah peraturannya dengan kill 8 untuk UAV misalnya atau yang lain tanpa harus menghilangkan killstreak.
Kini Ground War miliki map satu lagi yakni Tavorsk District.
Bagi kamu yang ingin merasakan bagaimana sulitnya peperangan, maka kamu bisa mencoba mode Realism. Di mana HUD akan dihilangkan dan hanya terbatas pada penanda rekan satu timmu. Selebihnya, semua tergantung skill menembakmu. Membuatnya nyaris tak mungkin untuk camping atau diam di suatu tempat. Tidak, ini bukan mode hardcore seperti seri orisinalnya, namun mode yang lebih mengutamakan realisme. Ia tidak miliki darah setebal Team Deathmatch karena time-to-killnya yang lebih singkat.
Sejauh ini NVG jadi salah satu mode favorit saya agar terhindar dari camper.
Salah satu mode ikonik unik lainnya adalah NVG dengan night maps yang akan paksamu untuk bergelut dalam multiplayer malam hari. Ia akan menggunakan peraturan mode realism yang bisa dibayangkan sendiri bahwa kamu akan kesulitan dengan segala keterbatasan yang ada. Mode yang baru diupdate tanggal 3 November kemarin akan menjadi favorit para orang yang tak ingin ada camper.
Co-op, Lanjutan Cerita?
Rekan satu timmu sekarat di co-op? Tenang! Kamu bisa menghidupkannya kembali.
Selain mode NVG yang ada di multiplayer, terdapat mode co-op yang paksamu untuk bergabung dengan tiga orang player lainnya. Mode ini seolah dijadikan lanjutan dari cerita singleplayer yang akan menceritakan bagaimana Price dan timnya mengirimmu untuk menanggulangi operasi Al Qatala. Saat ini terdapat empat misi co-op yang bisa dimainkan: Operation Headhunter, Kuvalda, Paladin, dan Crosswind. Tiap dua operation sekali akan terdapat adegan sinematik briefing ceritanya yang cukup memanjakan mata meski hanya briefing misi.
Co-op akan berimu beberapa tujuan tertentu di setiap misinya.
Tiap misi miliki area yang cukup berbeda. Namun satu hal yang pasti adalah bahwa mode ini sangat sulit meskipun telah dibantu player lain sekalipun. Musuh di mode ini takkan ada habisnya. Usahamu untuk stealth akan dijamin gagal karena pada akhirnya kamu harus bertempur melawan semua musuh yang ada. Belum lagi jika kamu harus bertemu dengan Juggernaut yang sangat keras. Mati satu? Tenang, kamu masih bisa dihidupkan kembali dengan menunggu respawn selama maksimal satu menit. Sementara jika semua orang dalam timmu mati atau injured, maka misi akan gagal. Itupun jika salah satu rekanmu memilih untuk menyerah.
Kotak ini adalah armor drop yang dikeluarkan oleh anggota satu timmu untuk membantumu mendapatkan armor.
Pertempuran sengitmu akan dibantu kotak yang berisi random killstreak atau random ammo/armor/grenade yang tersebar di penjuru map. Jadi, kamu dan timmu harus memanfaatkannya dengan baik jika tidak ingin menjadi bulan-bulanan musuhmu.
Berbeda dengan multiplayer biasa, Co-op miliki role yang mungkinkanmu untuk membantu rekan satu timmu dengan kemampuannya masing-masing. Misalnya saja medic yang akan mampu membuat rekan satu timmu hidup kembali dari jarak jauh dan lain sebagainya.BACA JUGA Game Brawlhalla Akan Hadir Untuk Mobile dan Support Crossplay
Ini adalah misi yang bisa kamu mainkan di co-op.Berbeda dengan multiplayer, co-op miliki role seperti medic hingga yang lain dengan kemampuannya masing-masing.
Sayangnya, Co-op ini merupakan mode yang bukan menjadi lanjutan ceritanya secara gamblang, karena pada akhir cerita singleplayer Infinity Ward dengan jelas mengatakan bahwa kisah akan berlanjut di Spec Ops. Di mana saat ini hal tersebut hanya bisa dilakukan di PlayStation 4 saja dan bukan PC tempat versi kami mereviewnya. Jadi, kami tidak bisa memberikan informasi apapun terkait Spec-Ops untuk saat ini.
Bug XP yang tak muncul terkadang buat saya kebingungan karena tiap selesai atau gagal dalam misi, maka XP akumulasi terkadang tak terakumulasi. Padahal pada kenyataannya, mau misimu gagal atau tidak, semua XP akan terakumulasi. Ini menurut saya hal yang sangat perlu diperbaiki oleh Infinity Ward di patch selanjutnya.
Meskipun begitu, XP yang diberikan oleh co-op tergolong cukup besar apabila kamu berhasil menyelesaikannya. Setidaknya kamu bisa naik satu level setiap kali kamu berhasil menyelesaikannya. Namun perlu diingat, kamu dan timmu harus hafal tiap patternnya agar bisa selesai dalam waktu singkat. Karena jika tidak, maka kamu akan bergelut dalam kebosanan. Menunggu rekan satu timmu respawn satu menit selama berjam-jam. Saya tidak menyarankan untuk memainkan mode ini kecuali kamu punya banyak waktu dan ingin naik level cepat. Mode ini juga tidak disarankan untuk menaikkan level senjatamu karena multiplayer biasa akan lebih cepat dibanding co-op.
Always Online dan BD PS4 Hanya Multiplayer
Dari banyaknya keluhan yang saya rasakan saat mereview versi PCnya. Tim kami yang memainkannya di PlayStation 4 menganggap bahwa membeli BD PlayStation 4 akan langsung plug and play setelah selesai menginstallnya. Pada kenyataannya tidak sama sekali.
BD PlayStation 4 hanya berisi multiplayernya saja, sementara file singleplayer harus didownload ulang sebesar kurang lebih 50GB. Membuatnya tak praktis bagi mereka yang memiliki kecepatan internet seperti cara berjalannya siput. Tentunya hal ini bisa diatasi dengan membuat dua BD seperti yang dilakukan Rockstar di Red Dead Redemption 2. Memang, hal tersebut akan membuat waktu install lebih lama. Namun dengan jumlah file yang banyak, maka wajar apabila membutuhkan BD yang lebih.
Sebelum kamu masuk ke main menu, kamu akan dihadapkan dengan laman koneksi.
Always online juga cukup mengganggu bagi mereka yang hanya ingin menikmati singleplayernya secara offline di PC. Sebelum masuk menu, kamu akan dihadapkan dengan loading yang berbunyi “Connecting to Online Services”. Sebuah DRM Battlenet agar gamenya tak dibajak. Kamu akan membutuhkan internet untuk bisa memainkannya meski singleplayer. Hal ini berbanding terbalik dengan versi consolenya yang bisa dimainkan secara offline. Memutus internet di tengah menu akan langsung melemparkanmu ke menu yang mana akan memaksamu keluar ke desktop.
Kesimpulan
Versi reboot dari Call of Duty: Modern Warfare sukses imajinasikan ulang seri yang sempat populer di masanya dengan wajah baru. Tampilan visualnya yang memesona dengan engine baru dan gunfightnya yang lebih realistis, jadikan seri ini standar Call of Duty di masa datang. Captain Price sendiri benar-benar digarap dengan sangat baik di universe yang dibuat oleh Infinity Ward dengan pengembangan karakternya yang cukup mulus. Sayangnya mereka tak menggali lebih dalam cerita dan pengembangan karakter Farah dan Hadir untuk berikan kesempatan dan kemungkinan kisahnya untuk dilanjutkan ke seri selanjutnya.
Konsep teror perang yang mereka sajikan berhasil hadirkan kengerian yang mendalam dalam konflik global yang ada saat ini. Sayangnya konsep generik Amerika dan negara sekutu barat yang selalu menjadi pahlawan sudah seharusnya dihapus karena sudah terlalu pasaran. Konklusi di akhir kisahnya berikan sebuah sinyal bahwa seri ini hanyalah prolog dari kisah Captain Price yang akan dilanjutkan ke seri selanjutnya. Bagi saya pribadi, pembawaan cerita di berbagai perspektif memang cukup menarik, namun tidak untuk keiimersifannya jika dibandingkan seri orisinalnya yang hanya dibawakan melalui perspektif orang pertama, yakni kamu.
Semua aspek gunfightnya yang dibuat lebih realistis terasa sangat memuaskan dan menjadi candu bagi tiap fans lawasnya. Terlebih di mode multiplayernya yang kini tak lagi run and gun. Membuat usahamu membunuh player lain dalam gamenya menjadi lebih rewarding.
Multiplayernya menjadikan Call of Duty Modern Warfare cukup berani dengan menantang langsung rivalnya berkat Ground War yang diimplementasikan. Sayangnya mekanik gunplay yang kini menjadi realistis dengan map yang luas memicu beberapa player yang seharusnya bermain lebih taktis menjadi camper. Cara bar-bar yang selama ini dilakukan takkan bisa terjadi kembali di seri ini. Sementara co-op merupakan tambahan yang menarik untuk representasikan cerita, namun sayang bukan menjadi lanjutan kisahnya secara gamblang. Karena semua akan dilanjutkan di spec-ops yang hingga detik ini masih eksklusif di PlayStation 4 saja.
Meskipun begitu, saya sangat menyarankan gamenya bagi kamu yang rindu gameplay singleplayer dan ceritanya yang khas yang kini telah dipoles menjadi lebih baik meskipun pada akhirnya justru main aman. Namun sayangnya, bagi kamu yang tak memiliki koneksi internet dan berusaha menimangnya di PC, maka kamu harus mengikhlaskan diri untuk melewatinya karena fitur always onlinenya atau membeli versi consolenya. Sementara kamu yang tak bisa lepas dari masa lalumu berkat gameplaynya yang kini menjadi lebih tactical, bisa menikmatinya sembari belajar untuk menyesuaikan diri dengan sistem baru tersebut.
Rockstar Games, nama developer yang satu ini memang punya asosiasi kuat dengan dua kata yang seringkali bergandengan di satu kalimat yang sama: game open-world dan berkualitas tinggi. Hampir semua gamer sepertinya mengenal citra yang satu ini, apalagi setelah bercermin pada produk yang mereka hasilkan di masa lalu. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak gamer yang menunggu kehadiran Red Dead Redemption 2 yang akhirnya tersedia untuk Playstation 4 dan Xbox One. Antisipasi kian tinggi setelah beberapa informasi sebelum rilis memberikan gambaran detail seperti apa yang hendak dikejar oleh Rockstar Games, termasuk kontroversi jam kerja padat yang kian menegaskan soal ambisi dan kualitasnya itu sendiri.
Yang menarik adalah fakta bahwa Red Dead Redemption 2 ternyata menawarkan sesuatu yang berbeda dari game open-world kebanyakan, bahkan GTA sekalipun. Ia menawarkan pace permainan yang begitu lambat dengan cerita yang panjang serta penguatan mekanik gameplay yang menghasilkan cita rasa simulasi dunia barat liar yang seharusnya.
Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Red Dead Redemption 2? Mengapa kami menyebutnya sebagai simulasi kualitas tinggi? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.
Plot
Terlepas dari angka “2” yang ia usung, RDR 2 merupakan prekuel dari RDR 1.
Terlepas dari angka “2” yang ia usung, Red Dead Redemption 2 sebenarnya merupakan seri prekuel dari Red Dead Redemption 1. Cerita yang diambil terjadi belasan tahun sebelum Anda memainkan John Marston yang mulai menua di seri pertamanya.
Anda berperan sebagai seorang outlaw bernama Arthur Morgan yang hidup bersama di dalam sebuah gang yang dipimpin oleh Dutch. Hidup dari beragam aksi kriminal yang sepertinya, menjadi spesialisasi dari anggota Dutch’s gang yang berbeda, gerombolan ini harus kabur setelah aksi raksasa mereka di Blackwater yang seharusnya menjadi akhir dari segalanya, berakhir menjadi bencana. Dikejar oleh pihak berwajib dan pemburu bayaran, Dutch’s Gang harus kabur ke daerah lebih barat untuk bertahan hidup. Mereka harus memulai segala sesuatunya dari awal.
Gagal “mengunci” aksi akhir mereka di Blackwater, gerombolan Dutch kini harus melarikan diri dan berusaha membangun tempat baru yang lebih aman.Anda berperan sebagai Arthur Morgan – tangan kanan Dutch.Dutch berambisi untuk membawa gerombolannya keluar dari Amerika ke pulau tropis layaknya surga. Tentu saja, sebelum bisa melakukan hal tersebut, ia harus mengumpulkan uang.
Sebagai tangan kanan yang sudah mengikuti Dutch sejak remaja, Arthur Morgan percaya pada visi dan misi Dutch. Dutch saat ini hanya ingin mengumpulkan sebanyak mungkin uang dan membawa gang yang ia pimpin, setiap dari mereka, untuk keluar dari Amerika dan berpindah ke pulau tropis untuk hidup tenang dan damai. Mengingat aksi kriminal adalah satu-satunya solusi yang bisa mereka pikirkan, maka Dutch mulai menyusun rencana untuk mengumpulkan uang tersebut. Semuanya dilakukan bersama dengan bantuan Arthur dan nasehat dari anggota yang lebih tua – Hosea. Sementara di sisi lain, anggota gang yang lain juga ikut berperan aktif.
Maka seperti yang bisa diprediksi, visi Dutch ini tidak semudah itu direalisasikan. Selain harus mengumpulkan kembali anggota yang tercecer setelah apa yang terjadi di Blackwater, mereka belum bebas dari status buronan mereka begitu saja. Salah satu pihak berwajib yang berisikan para agent elite – The Pinkerton terus memburu mereka. Terjebak di antara dua desakan yang berbeda, Dutch harus tetap berupaya mengumpulkan uang yang ia butuhkan sembari memastikan gang-nya tidak terdeteksi dan tertangkap oleh The Pinkerton. Situasi yang terkadang membuat para gang harus berpindah tempat.
Visi yang indah, tetapi perjalanan yang tidak mudah untuk mewujudkannya.Akan ada banyak situasi genting yang akan mengacaukan rencana Dutch.Akankah mereka berhasil?
Lantas, mampukah Dutch memenuhi visinya untuk membawa semua anggota gang bersantai di sebuah pulau tropis? Seperti apa pula peran Arthur Morgan di dalamnya? Tantangan seperti apa yang harus mereka hadapi? Semua jawaban dari pertanyaan tersebut bisa Anda dapatkan dengan memainkan Red Dead Redemption 2 itu sendiri